Selasa, 26 Agustus 2014

Stereotipe Pekerjaan Mapan

"Siapa bilang ngantor harus di depan monitor"

Itu adalah tagline yang diusung oleh sebuah produk rokok, U Mild, dalam iklan.

Iklan U Mild tersebut berusaha mengubah stereotipe tentang pekerjaan mapan bagi seseorang, terutama dalam hal ini adalah cowok, yang selama ini berlaku di masyarakat, yaitu pekerjaan kantoran. Dalam iklan tersebut dijelaskan bahwa pekerjaan tidak sama dengan ngantor di depan monitor. Pekerjaan bisa dilakukan dimana pun. Sesuai dengan perkembangan saat ini, bahwa banyak sekali hal-hal yg dapat dikatakan sebagai pekerjaan. Hobi travelling dapat dijadikan sebagai sebuah pekerjaan. Pun hobi menulis.

Rabu, 02 Juli 2014

Escape to Pulau Merak Kecil

Pada hari minggu, 15 Juni 2014, saya dan adik saya serta dua orang sepupu akhirnya pergi ke sebuah pulau. Sebenarnya, kepergian boleh dibilang tidak direncanakan. Jadi, seminggu sebelumnya saya pergi ke rumah tante di Merak, Cilegon untuk menghadiri pernikahan sepupu. Pada waktu itu, sepupu saya, Ari, mengajak untuk pergi ke sebuah pulau yang ada di sekitar Merak. Sebagai pecinta pantai, saya langsung mengiyakan ajakan tersebut. Karena selama ini selalu ada wacana untuk pergi mengunjungi pantai-pantai yang ada di Lampung, tapi karena waktu yang tidak ada, akhirnya wacana tinggal wacana. Pikir saya, tidak jadi Lampung, Merak pun jadi. Namun, karena satu dan lain hal, ajakan tersebut batal. Sedih juga rasanya, karena saya sudah sangat menginginkan pergi ke pantai akibat kejenuhan dalam rutinitas bekerja selama beberapa bulan ke belakang. Semenjak saya bekerja, praktis belum ada waktu untuk pergi tamasya. Kembali ke topik sebelumnya, pulau kecil di Merak.

Seperti yang telah saya ceritakan di postingan sebelumnya, bahwa beberapa hari ini saya sudah tidak lagi bekerja. Saya pun memutuskan untuk tidak mencari kerja terlebih dahulu untuk membayar hilangnya waktu bersama keluarga dan teman-teman semenjak saya bekerja. Tak dinyana, orang tua saya meminta saya untuk pergi ke rumah tante yang ada di Merak karena ada urusan. Saya pun tidak menyia-nyiakan kesempatan. Saya langsung mengajak sepupu saya, Ari dan adik saya Meisya untuk mengunjungi pulau kecil.

Pagi-pagi sekali, saya dan adik saya berangkat ke Merak dari Serang. Sesampainya di Merak pukul sekitar pukul 9 pagi, awan mendung menggelayuti langit Merak. sempat beberapa kali juga diguyur hujan. Rencana mandi di pulau kecil di pagi hari pun batal. Hujan terus mengguyur Merak hingga siang hari. Saya memutuskan untuk menunggu hujan reda di rumah tante. Sempat beberapa kali perasaan pesimis muncul. Hingga akhirnya saya tertidur hingga pukul 2 siang. Hujan rintik-rintik pun belum juga reda. Dengan kebulatan tekad, akhirnya saya memutuskan untuk tetap melanjutkan perjalanan ke pulau. Setelah pamit ke om dan tante, saya, Meisya, Ari dan adik sepupu yang masih SD, Florentino akhirnya berangkat. Pulau Kecil, here we come!!!

Pulau kecil yang terletak di bibir Pulau Jawa ini terletak di pinggir Selat Sunda. Tepatnya tidak jauh dari pelabuhan penyebrangan Merak, Cilegon. Ya, namanya Pulau Merak Kecil. Warga sekitar biasa menyebutnya Pulau Kecil. Berdasarkan data dari Nusapedia, pulau ini memiliki luas ± 4 ha. Pulau ini dapat dikelilingi selama 10 menit.

Untuk mencapai pulau ini sangat lah mudah. Jika anda dari Jakarta, bisa dicapai dari beberapa lokasi. Seperti Terminal Kp. Rambutan, Pulogadung, Tj. Periok, Slipi dan Kebun Jeruk. Naik bus yang memiliki tujuan akhir Merak. Lama perjalanan dari Jakarta – Merak memakan waktu sekitar 2 – 3 jam, bisa lebih lama tergantung kondisi jalan tol. Jika sudah sampai di Merak, tinggal minta ke supir untuk  diturunkan di Hotel Feri atau Polsek Pulo Merak. Di situ lah terdapat Pantai Mabak, titik untuk menyebrang ke Pulau Merak Kecil. Pantai Mabak ini dahulu cukup indah. Sewaktu kecil, ketika liburan sekolah dan main ke rumah tante yang ada di Merak, saya selalu menyempatkan pergi ke Pantai ini. Tapi sayang, sekarang keadaannya sudah tidak layak dan juga beberapa bagian sudah tidak lagi menjadi area umum karena sudah dibangun penginapan pribadi.

Dari Pantai Mabak, banyak terdapat perahu nelayan yang siap untuk mengantar para wisatawan menyebrang ke Pulau Kecil. Tarif yang diberlakukan pun terhitung murah dengan biaya Rp. 10 ribu per orang PP. Asyiknya adalah tidak ada quota yang diberlakukan. Artinya, berapa pun jumlah wisatawan yang menyewa perahu, mau 1 orang, 2 orang atau 15 orang pun tarifnya tetap sama, yakni Rp. 10 ribu rupiah per orang PP.

Sejak mengayunkan kaki menaiki perahu tradisional, perasaan excited menyelimuti diri saya. Dalam waktu kurang lebih 10 menit, kami pun akhirnya sampai di Pulau Kecil. Kami pun tidak menyia-nyiakan waktu. Kami langsung sibuk mengambil foto diri. Terdapat banyak spot indah untuk berfoto dengan berbagai latar belakang: Kesibukan kapal yang lalu lalang di Pelabuhan, latar belakang gunung, latar belakang bangunan-bangunan pabrik di cilegon, maupun latar belakang laut lepas. Di siang hari, latar belakang gunung di pulau Merak atau pun Pulau Merak Besar dapat menjadi andalan. Namun, pada malam hari cahaya lampu dari bangunan-bangunan pabrik yang ada di Cilegon dapat menjadi daya tarik tersendiri. Muda-mudi di Merak sendiri pada akhir pekan sering menghabiskan malam di pulau ini. Entah ngapain --.—“

Pulau ini, menurut saya cukup bagus untuk ukuran sebuah pulau yang dekat dengan pelabuhan dan area penduduk. Meskipun pantai Mabak sudah sangat kotor, Pulau Kecil ini masih cukup bagus. Terdapat pasir putih dan airnya pun jernih. Jauh lebih jernih daripada pantai yang ada di Anyer (entah sejak kapan saya mulai membenci Anyer yang disebabkan oleh pantainya yang ramai dan airnya yang keruh dan kotor). Ya walau pun tidak jarang kita menemui sampah di pulau ini akibat ulah pengunjung yang tidak bertanggung jawab meninggalkan sampah. Tetapi, beberapa titik masih layak untuk dinikmati. Pulau ini terdiri dari area berpasir dan area batu karang. Seperti area batu karang yang terdapat di balik pulau, kita dapat duduk-duduk menikmati deburan ombak, mini-jacuzzi-alami yang terbentuk di batu karang, atau sekedar menikmati sunset dari puncak pulau. Dan kita juga dapat berenang di area depan pulau di area berpasir.

Pada waktu saya ke pulau ini, saya kurang puas karena beberapa hal. Di antaranya adalah karena cuaca mendung sepanjang hari akhirnya kami tidak mendapatkan sunset yang bagus. Ditambah, karena hari minggu dan sudah sore, sehingga ramai pengunjung. Sebab saya adalah orang yang tidak suka keramaian kalau pergi ke pantai. Pada waktu itu terdapat beberapa keluarga yang rekreasi makan di Pulau, beberapa kelompok muda-mudi yang asyik bakar ikan, pacaran dan lain sebagainya.

Setelah puas mengambil foto dan menemani Florentino yang asyik sendiri berenang, kami akhirnya memutuskan untuk pulang dengan menelpon pemilik kapal. FYI, jangan lupa minta no telepon yang bisa dihubungi kepada pemilik kapal agar kita bisa pulang. Tetapi, jika lupa meminta no telepon, jangan khawatir tidak bisa pulang, karena kapal nelayan sering bolak-balik ke pulau untuk mengantar pengunjung.

Pesan terakhir, selalu jaga kebersihan dan keindahan pulau, agar kita selalu dapat menikmati keindahan Sang Maha Pencipta. Seperti kata pepatah

“Take nothing but picture, leave nothing but footprint”.

Berikut adalah beberapa gambar yang berhasil diambil.

Rabu, 11 Juni 2014

Mudik Part 2

Pada postingan sebelumnya saya bercerita tentang perjalanan mudik saya. Pada postingan ini saya akan menceritakan pengalaman saya selama mudik.

Sesampainya di Lubuk Linggau, saya dan keluarga tidak langsung pulang kampung ke desa ibu saya yang berada di Desa Noman, Kecamatan Muara Rupit, Kabupaten Musi Rawas Utara (pemekaran dari Kabupaten Musi Rawas). Tapi, kami stay di Kota Lubuk Linggau sampai H-1 hari raya, karena rata-rata keluarga kami sudah tinggal di sini semua. Jarak dari Lubuk Linggau ke Desa Noman sekitar 45 - 60 menit perjalanan.

Selama di Lubuk Linggau, saya hanya berdiam diri di rumah. Karena masih dalam bulan ramadhan sehingga malas melakukan kegiatan di luar rumah dan karena  tidak tahu juga mau ke mana. Lubuk Linggau ini kotanya kecil. Jalanannya cuma lurus tok. Tapi jangan salah, di sini ada beberapa tempat wisata, seperti: Bukit Sulap (ini berada tepat di belakang rumah kami), Air Terjun Temam, dan Watervang (sistem irigasi peninggalan Belanda). Di Lubuk Linggau, saya hanya menyempatkan diri ke Lapangan Merdeka saja sambil memuaskan lidah dengan beragam jenis pempek (pempek kulit ikan yang paling saya suka), model, tekwan. Dan harganya sangat murah. Jika di Pulau Jawa harga seporsi pempek mencapai Rp. 15 ribu, di sini cukup dengan harga seribu rupiah per biji pempek dengan rasa yang sangat lezat.

Mudik Part 1

Sebenarnya, ini cerita waktu saya mudik lebaran tahun lalu, tepatnya pada bulan Juni 2013. Tapi, baru sempat saya ceritakan sekarang.

---

Tanggal 21 Juni 2013 adalah waktu yang paling dinanti. Saya, Ibu, kakak dan 2 adik saya sudah bergegas dari rumah kami di Serang, Banten untuk menuju ke Pelabuhan Merak. Di pelabuhan ini lah kami menunggu bus yang akan mengantarkan kami ke Lubuk Linggau, sebuah kota di Sumatera Selatan. Kota ini berbatasan langsung dengan Provinsi Bengkulu dan dapat ditempuh dalam waktu 8 jam perjalanan dari Kota Palembang.

Sekitar pukul 14:00 WIB, bus yang kami tunggu akhirnya datang juga. Tiket bis ini telah saya pesan jauh-jauh hari sebelum keberangkatan hari ini guna mengantisipasi kehabisan tiket saat menjelang lebaran. Bus jurusan Jakarta - Bengkulu ini cukup bersih dan terawat. Kursi-kursi juga nya nyaman dan cukup lega. Setelah selesai menaikkan barang, bus kami akhirnya berangkat dan masuk ke kapal. Lama perjalanan kapal dari Pelabuhan Merak ke Bakauheni Lampung sekitar 2 jam. Kami memilih menikmati perjalanan dari deck kapal. Kebetulan kapal yang kami naiki cukup nyaman dengan adanya kursi-kursi santai. Tidak terasa akhirnya kapal sampai di Bakauheni tepat di waktu adzan maghrib berkumandang. Kami bergegas masuk ke dalam bus dan berbuka puasa.

Bus mulai keluar kapal. Perasaan saya campur aduk saat itu. Karena Ini adalah pertama kalinya saya menginjakkan kaki kembali di Pulau Sumatera setelah hampir 14 tahun pindah ke Pulau Jawa, tepatnya di Kota Serang Provinsi Banten. Perasaan senang bercampur haru. Perasaan seperti bertemu kembali kekasih yang telah lama terpisah.

Hari mulai gelap dan bus mulai memasuki wilayah Lampung. Pemandangan yang disuguhkan sepanjang perjalanan sungguh berbeda dengan di Pulau Jawa. Jika sepanjang jalan raya atau jalan tol dari Serang - Jakarta dapat dijumpai bangunan dan jalan yang terawat, hal ini berbeda ketika kita memasuki wilayah Sumatera. Jalan Lintas Sumatera tidak begitu lebar dan di beberapa titik rusak cukup parah. Belum lagi sepanjang jalan yang sepi (jarang rumah penduduk) dan dikelilingi hutan lebat. Tapi, hal ini lah yang amat saya rindukan dari Pulau Sumatera. Pulau ini begitu magis.

Lama perjalanan ke Lubuk Linggau sekitar 16 jam ditambah jalanan yang kurang mulus. Jalanan yang lurus dan landai bisa dijumpai di Lampung. Selebihnya, jalan yang sempit dan berkelok-kelok. Belum lagi supir bus yang ugal-ugalan. Sudah terbayang betapa melahkannya perjalanan ke Sumatera dengan menggunakan bus ini. Dari Lampung, kemudian ke Ogan Komering, Tanjung Enim, jalanan masih bisa ditolerir. Tapi, begitu masuk ke wilayah Lahat, sensasinya baru kerasa. Jalanan sempit berkelok naik turun bukit, ditambah jurang-jurang menganga tepat dipinggir jalan, membuat saya tak henti-hentinya dzikir dan istighfar. Meski demikian, pemandangan yang disuguhkan terutama di wilayah Lahat ini cukup mengesankan bagi saya. Pemandangan alam berupa pegunungan dan hutan hujan tropis begitu mengagumkan.

Setelah perjalanan yang sangat melelahkan, akhirnya bus kami sampai di kota yang memiliki semboyan Sebiduk Semare, Kota Lubuk Linggau. Kota yang telah lama saya tinggalkan.

Rabu, 28 Mei 2014

The lowest point of your life

Right now, I feel like I'm at the lowest point of my life. It seems like problem  comes repeatedly: Losing significant-other, losing job, family problem, etc.

First, let go of someone you've been in love with is never that easy.
Especially when you are the one who is dumped by.

Second, I just realized that losing job is way harder than the first problem I had. At first, I have no courage to face the world. It ruins my life.

At the moment like this, I try to keep the spirit up on me. And I remember a quote "...Above all, don't lose hope".

And I'm feeling grateful that I have family, mom-dad-sisters, who always support me. Who keep holding me whenever I break down. Who cheer me up in the saddest moment I have. Being with them is the most precious moment.

And after going through a very tough time, now I'm ready to start brand-new days with #100daysofhappiness. Bonjour :)

Jumat, 11 April 2014

It's been a while

It's been a while (if it's not that long) that I didn't publish any post(s) in this blog. Especially after getting involved in this program of Management Trainee in my company. I feel like I don't (or never) have time to write. Blame  this job, yet it's I enjoy the most so far.

Anyway, it's been 3 months I'm working in my current job. During that time, a lot of things happened in my life. Due to this job, I had to let go someone who I loved (actually she did break up with me).

But, once said life must go on. I focus on my job. My new life. Meet with new people helps me forget about the heartbreak.

During the 3 months of working (training as MT), I learned a lot of things. I learned how to manage relations both with my superiors and subordinates. How to face the problems that came and immediatly solved it. It all taught me how to be mature.

Selasa, 14 Januari 2014

Kebebasan oleh Sartre

Bonjour à tous,

Akhirnya bisa nulis lagi di blog ini.
Pada kesempatan kali ini, saya akan menulis tentang konsep kebebasan yang dikemukakan oleh salah seorang pemikir besar Prancis, Jean-Paul Sartre dalam tulisannya yang berjudul “L’extentialisme est un humanisme atau Extentialism is humanism”.

Jean-Paul Sartre adalah seorang penganut filsafat ekstensialisme dari Prancis. Selain seorang filsuf, ia juga merupakan seorang sastrawan besar Prancis.
Ekstensialisme adalah pemikiran tentang modus keberadaan, kesadaran individu sebagai subjek. Dengan akal budi, manusia dapat menyadari eksistensinya (modus berada).

Sartre percaya bahwa eksistensi mendahului esensi (l’existence précède l’essence). Artinya, manusia lahir ke dunia, kemudian menjadi ‘sesuatu’. Sartre menganggap bahwa manusia seperti ‘terlempar’ begitu saja ke dunia, lalu akan menjadi apa manusia (individu) tersebut, tergantung dari pilihan yang ia ambil. Hal tersebut bertentangan dengan konsep yang terdapat dalam agama, yaitu manusia diturunkan ke dunia dengan tujuan. – Dan saya percaya bahwa manusia diturunkan ke dunia dengan tujuan yang telah ditetapkan oleh Tuhan (l’essence précède l’existence atau esensi mendahului eksistensi), baik itu untuk menebus dosa Adam dan Hawa, menjadi khalifah (pemimpin) di muka bumi, dan yang pasti untuk bersujud ke pada-Nya. Apakah manusia akan mengikuti esensi tersebut atau tidak, itu tergantung dari pilihan manusia (individu) sebagai mahluk bebas yang diberi akal dan pikiran. –
Yang membuat saya tertarik dengan pemikiran Sartre adalah konsep kebebasan yang dikemukan oleh Sartre. Manusia, sebagai mahluk yang paling sempurna, yang diberi akal dan pikiran, menurut Sartre mampu melakukan apa pun. Dalam pemikirannya, Sartre yang menegasikan (meniadakan) Tuhan. – meniadakan bukan berarti tidak mengakui adanya Tuhan –, menganggap bahwa manusia adalah subjek atas dirinya sendiri.

Yang ingin saya tekankan di sini adalah bahwa kita, sebagai mahluk ‘bebas’, harus bertanggung jawab atas semua pilihan yang kita ambil. Jangan pernah menyalahkan orang lain (mauvaise foi) karena sesungguhnya kita mempunyai pilihan yang bebas.