Rabu, 11 Juni 2014

Mudik Part 2

Pada postingan sebelumnya saya bercerita tentang perjalanan mudik saya. Pada postingan ini saya akan menceritakan pengalaman saya selama mudik.

Sesampainya di Lubuk Linggau, saya dan keluarga tidak langsung pulang kampung ke desa ibu saya yang berada di Desa Noman, Kecamatan Muara Rupit, Kabupaten Musi Rawas Utara (pemekaran dari Kabupaten Musi Rawas). Tapi, kami stay di Kota Lubuk Linggau sampai H-1 hari raya, karena rata-rata keluarga kami sudah tinggal di sini semua. Jarak dari Lubuk Linggau ke Desa Noman sekitar 45 - 60 menit perjalanan.

Selama di Lubuk Linggau, saya hanya berdiam diri di rumah. Karena masih dalam bulan ramadhan sehingga malas melakukan kegiatan di luar rumah dan karena  tidak tahu juga mau ke mana. Lubuk Linggau ini kotanya kecil. Jalanannya cuma lurus tok. Tapi jangan salah, di sini ada beberapa tempat wisata, seperti: Bukit Sulap (ini berada tepat di belakang rumah kami), Air Terjun Temam, dan Watervang (sistem irigasi peninggalan Belanda). Di Lubuk Linggau, saya hanya menyempatkan diri ke Lapangan Merdeka saja sambil memuaskan lidah dengan beragam jenis pempek (pempek kulit ikan yang paling saya suka), model, tekwan. Dan harganya sangat murah. Jika di Pulau Jawa harga seporsi pempek mencapai Rp. 15 ribu, di sini cukup dengan harga seribu rupiah per biji pempek dengan rasa yang sangat lezat.

Mudik Part 1

Sebenarnya, ini cerita waktu saya mudik lebaran tahun lalu, tepatnya pada bulan Juni 2013. Tapi, baru sempat saya ceritakan sekarang.

---

Tanggal 21 Juni 2013 adalah waktu yang paling dinanti. Saya, Ibu, kakak dan 2 adik saya sudah bergegas dari rumah kami di Serang, Banten untuk menuju ke Pelabuhan Merak. Di pelabuhan ini lah kami menunggu bus yang akan mengantarkan kami ke Lubuk Linggau, sebuah kota di Sumatera Selatan. Kota ini berbatasan langsung dengan Provinsi Bengkulu dan dapat ditempuh dalam waktu 8 jam perjalanan dari Kota Palembang.

Sekitar pukul 14:00 WIB, bus yang kami tunggu akhirnya datang juga. Tiket bis ini telah saya pesan jauh-jauh hari sebelum keberangkatan hari ini guna mengantisipasi kehabisan tiket saat menjelang lebaran. Bus jurusan Jakarta - Bengkulu ini cukup bersih dan terawat. Kursi-kursi juga nya nyaman dan cukup lega. Setelah selesai menaikkan barang, bus kami akhirnya berangkat dan masuk ke kapal. Lama perjalanan kapal dari Pelabuhan Merak ke Bakauheni Lampung sekitar 2 jam. Kami memilih menikmati perjalanan dari deck kapal. Kebetulan kapal yang kami naiki cukup nyaman dengan adanya kursi-kursi santai. Tidak terasa akhirnya kapal sampai di Bakauheni tepat di waktu adzan maghrib berkumandang. Kami bergegas masuk ke dalam bus dan berbuka puasa.

Bus mulai keluar kapal. Perasaan saya campur aduk saat itu. Karena Ini adalah pertama kalinya saya menginjakkan kaki kembali di Pulau Sumatera setelah hampir 14 tahun pindah ke Pulau Jawa, tepatnya di Kota Serang Provinsi Banten. Perasaan senang bercampur haru. Perasaan seperti bertemu kembali kekasih yang telah lama terpisah.

Hari mulai gelap dan bus mulai memasuki wilayah Lampung. Pemandangan yang disuguhkan sepanjang perjalanan sungguh berbeda dengan di Pulau Jawa. Jika sepanjang jalan raya atau jalan tol dari Serang - Jakarta dapat dijumpai bangunan dan jalan yang terawat, hal ini berbeda ketika kita memasuki wilayah Sumatera. Jalan Lintas Sumatera tidak begitu lebar dan di beberapa titik rusak cukup parah. Belum lagi sepanjang jalan yang sepi (jarang rumah penduduk) dan dikelilingi hutan lebat. Tapi, hal ini lah yang amat saya rindukan dari Pulau Sumatera. Pulau ini begitu magis.

Lama perjalanan ke Lubuk Linggau sekitar 16 jam ditambah jalanan yang kurang mulus. Jalanan yang lurus dan landai bisa dijumpai di Lampung. Selebihnya, jalan yang sempit dan berkelok-kelok. Belum lagi supir bus yang ugal-ugalan. Sudah terbayang betapa melahkannya perjalanan ke Sumatera dengan menggunakan bus ini. Dari Lampung, kemudian ke Ogan Komering, Tanjung Enim, jalanan masih bisa ditolerir. Tapi, begitu masuk ke wilayah Lahat, sensasinya baru kerasa. Jalanan sempit berkelok naik turun bukit, ditambah jurang-jurang menganga tepat dipinggir jalan, membuat saya tak henti-hentinya dzikir dan istighfar. Meski demikian, pemandangan yang disuguhkan terutama di wilayah Lahat ini cukup mengesankan bagi saya. Pemandangan alam berupa pegunungan dan hutan hujan tropis begitu mengagumkan.

Setelah perjalanan yang sangat melelahkan, akhirnya bus kami sampai di kota yang memiliki semboyan Sebiduk Semare, Kota Lubuk Linggau. Kota yang telah lama saya tinggalkan.

Rabu, 28 Mei 2014

The lowest point of your life

Right now, I feel like I'm at the lowest point of my life. It seems like problem  comes repeatedly: Losing significant-other, losing job, family problem, etc.

First, let go of someone you've been in love with is never that easy.
Especially when you are the one who is dumped by.

Second, I just realized that losing job is way harder than the first problem I had. At first, I have no courage to face the world. It ruins my life.

At the moment like this, I try to keep the spirit up on me. And I remember a quote "...Above all, don't lose hope".

And I'm feeling grateful that I have family, mom-dad-sisters, who always support me. Who keep holding me whenever I break down. Who cheer me up in the saddest moment I have. Being with them is the most precious moment.

And after going through a very tough time, now I'm ready to start brand-new days with #100daysofhappiness. Bonjour :)

Jumat, 11 April 2014

It's been a while

It's been a while (if it's not that long) that I didn't publish any post(s) in this blog. Especially after getting involved in this program of Management Trainee in my company. I feel like I don't (or never) have time to write. Blame  this job, yet it's I enjoy the most so far.

Anyway, it's been 3 months I'm working in my current job. During that time, a lot of things happened in my life. Due to this job, I had to let go someone who I loved (actually she did break up with me).

But, once said life must go on. I focus on my job. My new life. Meet with new people helps me forget about the heartbreak.

During the 3 months of working (training as MT), I learned a lot of things. I learned how to manage relations both with my superiors and subordinates. How to face the problems that came and immediatly solved it. It all taught me how to be mature.

Selasa, 14 Januari 2014

Kebebasan oleh Sartre

Bonjour à tous,

Akhirnya bisa nulis lagi di blog ini.
Pada kesempatan kali ini, saya akan menulis tentang konsep kebebasan yang dikemukakan oleh salah seorang pemikir besar Prancis, Jean-Paul Sartre dalam tulisannya yang berjudul “L’extentialisme est un humanisme atau Extentialism is humanism”.

Jean-Paul Sartre adalah seorang penganut filsafat ekstensialisme dari Prancis. Selain seorang filsuf, ia juga merupakan seorang sastrawan besar Prancis.
Ekstensialisme adalah pemikiran tentang modus keberadaan, kesadaran individu sebagai subjek. Dengan akal budi, manusia dapat menyadari eksistensinya (modus berada).

Sartre percaya bahwa eksistensi mendahului esensi (l’existence précède l’essence). Artinya, manusia lahir ke dunia, kemudian menjadi ‘sesuatu’. Sartre menganggap bahwa manusia seperti ‘terlempar’ begitu saja ke dunia, lalu akan menjadi apa manusia (individu) tersebut, tergantung dari pilihan yang ia ambil. Hal tersebut bertentangan dengan konsep yang terdapat dalam agama, yaitu manusia diturunkan ke dunia dengan tujuan. – Dan saya percaya bahwa manusia diturunkan ke dunia dengan tujuan yang telah ditetapkan oleh Tuhan (l’essence précède l’existence atau esensi mendahului eksistensi), baik itu untuk menebus dosa Adam dan Hawa, menjadi khalifah (pemimpin) di muka bumi, dan yang pasti untuk bersujud ke pada-Nya. Apakah manusia akan mengikuti esensi tersebut atau tidak, itu tergantung dari pilihan manusia (individu) sebagai mahluk bebas yang diberi akal dan pikiran. –
Yang membuat saya tertarik dengan pemikiran Sartre adalah konsep kebebasan yang dikemukan oleh Sartre. Manusia, sebagai mahluk yang paling sempurna, yang diberi akal dan pikiran, menurut Sartre mampu melakukan apa pun. Dalam pemikirannya, Sartre yang menegasikan (meniadakan) Tuhan. – meniadakan bukan berarti tidak mengakui adanya Tuhan –, menganggap bahwa manusia adalah subjek atas dirinya sendiri.

Yang ingin saya tekankan di sini adalah bahwa kita, sebagai mahluk ‘bebas’, harus bertanggung jawab atas semua pilihan yang kita ambil. Jangan pernah menyalahkan orang lain (mauvaise foi) karena sesungguhnya kita mempunyai pilihan yang bebas.

Pantai

Tiba-tiba teringat sepenggal puisi yang dibacakan oleh Dian Sastro dalam film Ada Apa Dengan Cinta (AADC) yang berbunyi:

Ku berlari ke pantai, kemudian teriakku
Sepi...

Kenapa pantai? Kenapa tidak gunung? Mungkin karena dibutuhkan perjuangan ekstra untuk bisa sampai ke gunung. Jadi, dipilihlah pantai yang relatif lebih mudah untuk dicapai. *Asal*

Tapi, bagi saya pantai adalah tujuan favorite. Air laut, ombak dan pasir pantai adalah media untuk saya menyembuhkan luka. Baik luka fisik maupun luka emosional.
Memandang cakrawala tanpa batas, harmonisasi antara desiran ombak dan desau angin yang menerpa, menjadi nyanyian alam yang paling merdu yang mampu mengobati luka yang saya alami.


Ketika saya sudah merasa terlalu lelah dengan berbagai situasi hidup yang saya hadapi, saya selalu menyempatkan diri untuk pergi ke pantai. Lautan luas, tidak ada hal yang mampu menghalangi pandangan, tidak perlu menengadah untuk melihat langit. Saya merasa begitu  dekat dengan Tuhan. Saya merasa Tuhan memberikan obat bagi luka di jiwa saya melalui terpaan angin di kulit saya dan juga melalui suara ombak yang saya dengar.

Saya suka laut dan pantai sejak kecil. Saya ingat, dulu ketika kecil ibu sering mengajak saya ke pantai. Mungkin sejak itulah ikatan emosional antara saya dan pantai terjalin dan menjadi semakin kuat   hingga saya beranjak dewasa.

Pantai selalu menjadi teman yang selalu menerima apa adanya saya.

Minggu, 12 Januari 2014

Persahabatan

I love these two guys.

Spongebob: “What if I break your trust someday?”
Patrick: “Trusting you is my decision, proving me wrong is your choice.”

—-

I think, that’s what a frienship supposed to be like. Trusting each other. Menerima satu sama lain, apa adanya. Tetap menerima ketika sahabat melakukan kesalahan, bukan malah menjauh.

Spongebob seems don’t mind if Patrick is damn idiot. Spongebob pernah berpura-pura menjadi sangat bodoh demi Patrick. Dan Patrick adalah sahabat yang paling setia. Bahkan ketika Spongebob menjadi kaya raya, kemudian pergi meninggalkan Patrick dan kawan-kawannya. Lalu, Spongebob kembali miskin, Patrick adalah orang pertama yang menerima Spongebob kembali.

Patrick once said:
“Knowledge cannot replace friendship. I’d rather be an idiot than lose you.”

And

Spongebob: “What do you do when I’m gone?”
Patrick: “Wait for you to come back.”

Banyak sekali dialogue-dialogue antara Spongebob dan Patrick yang (menurut saya) sangat bagus.
Dan, karena dialogue-dialogue tersebut orang-orang sering bilang bahwa Spongebob dan Patrick are gay. Hahaha how funny is that? Either they’re gay or not, d’apres moi, persahabatan antara Spongebob dan Patrick itu adalah salah satu persahabatan terbaik.