Rabu, 28 Mei 2014

The lowest point of your life

Right now, I feel like I'm at the lowest point of my life. It seems like problem  comes repeatedly: Losing significant-other, losing job, family problem, etc.

First, let go of someone you've been in love with is never that easy.
Especially when you are the one who is dumped by.

Second, I just realized that losing job is way harder than the first problem I had. At first, I have no courage to face the world. It ruins my life.

At the moment like this, I try to keep the spirit up on me. And I remember a quote "...Above all, don't lose hope".

And I'm feeling grateful that I have family, mom-dad-sisters, who always support me. Who keep holding me whenever I break down. Who cheer me up in the saddest moment I have. Being with them is the most precious moment.

And after going through a very tough time, now I'm ready to start brand-new days with #100daysofhappiness. Bonjour :)

Jumat, 11 April 2014

It's been a while

It's been a while (if it's not that long) that I didn't publish any post(s) in this blog. Especially after getting involved in this program of Management Trainee in my company. I feel like I don't (or never) have time to write. Blame  this job, yet it's I enjoy the most so far.

Anyway, it's been 3 months I'm working in my current job. During that time, a lot of things happened in my life. Due to this job, I had to let go someone who I loved (actually she did break up with me).

But, once said life must go on. I focus on my job. My new life. Meet with new people helps me forget about the heartbreak.

During the 3 months of working (training as MT), I learned a lot of things. I learned how to manage relations both with my superiors and subordinates. How to face the problems that came and immediatly solved it. It all taught me how to be mature.

Selasa, 14 Januari 2014

Kebebasan oleh Sartre

Bonjour à tous,

Akhirnya bisa nulis lagi di blog ini.
Pada kesempatan kali ini, saya akan menulis tentang konsep kebebasan yang dikemukakan oleh salah seorang pemikir besar Prancis, Jean-Paul Sartre dalam tulisannya yang berjudul “L’extentialisme est un humanisme atau Extentialism is humanism”.

Jean-Paul Sartre adalah seorang penganut filsafat ekstensialisme dari Prancis. Selain seorang filsuf, ia juga merupakan seorang sastrawan besar Prancis.
Ekstensialisme adalah pemikiran tentang modus keberadaan, kesadaran individu sebagai subjek. Dengan akal budi, manusia dapat menyadari eksistensinya (modus berada).

Sartre percaya bahwa eksistensi mendahului esensi (l’existence précède l’essence). Artinya, manusia lahir ke dunia, kemudian menjadi ‘sesuatu’. Sartre menganggap bahwa manusia seperti ‘terlempar’ begitu saja ke dunia, lalu akan menjadi apa manusia (individu) tersebut, tergantung dari pilihan yang ia ambil. Hal tersebut bertentangan dengan konsep yang terdapat dalam agama, yaitu manusia diturunkan ke dunia dengan tujuan. – Dan saya percaya bahwa manusia diturunkan ke dunia dengan tujuan yang telah ditetapkan oleh Tuhan (l’essence précède l’existence atau esensi mendahului eksistensi), baik itu untuk menebus dosa Adam dan Hawa, menjadi khalifah (pemimpin) di muka bumi, dan yang pasti untuk bersujud ke pada-Nya. Apakah manusia akan mengikuti esensi tersebut atau tidak, itu tergantung dari pilihan manusia (individu) sebagai mahluk bebas yang diberi akal dan pikiran. –
Yang membuat saya tertarik dengan pemikiran Sartre adalah konsep kebebasan yang dikemukan oleh Sartre. Manusia, sebagai mahluk yang paling sempurna, yang diberi akal dan pikiran, menurut Sartre mampu melakukan apa pun. Dalam pemikirannya, Sartre yang menegasikan (meniadakan) Tuhan. – meniadakan bukan berarti tidak mengakui adanya Tuhan –, menganggap bahwa manusia adalah subjek atas dirinya sendiri.

Yang ingin saya tekankan di sini adalah bahwa kita, sebagai mahluk ‘bebas’, harus bertanggung jawab atas semua pilihan yang kita ambil. Jangan pernah menyalahkan orang lain (mauvaise foi) karena sesungguhnya kita mempunyai pilihan yang bebas.

Pantai

Tiba-tiba teringat sepenggal puisi yang dibacakan oleh Dian Sastro dalam film Ada Apa Dengan Cinta (AADC) yang berbunyi:

Ku berlari ke pantai, kemudian teriakku
Sepi...

Kenapa pantai? Kenapa tidak gunung? Mungkin karena dibutuhkan perjuangan ekstra untuk bisa sampai ke gunung. Jadi, dipilihlah pantai yang relatif lebih mudah untuk dicapai. *Asal*

Tapi, bagi saya pantai adalah tujuan favorite. Air laut, ombak dan pasir pantai adalah media untuk saya menyembuhkan luka. Baik luka fisik maupun luka emosional.
Memandang cakrawala tanpa batas, harmonisasi antara desiran ombak dan desau angin yang menerpa, menjadi nyanyian alam yang paling merdu yang mampu mengobati luka yang saya alami.


Ketika saya sudah merasa terlalu lelah dengan berbagai situasi hidup yang saya hadapi, saya selalu menyempatkan diri untuk pergi ke pantai. Lautan luas, tidak ada hal yang mampu menghalangi pandangan, tidak perlu menengadah untuk melihat langit. Saya merasa begitu  dekat dengan Tuhan. Saya merasa Tuhan memberikan obat bagi luka di jiwa saya melalui terpaan angin di kulit saya dan juga melalui suara ombak yang saya dengar.

Saya suka laut dan pantai sejak kecil. Saya ingat, dulu ketika kecil ibu sering mengajak saya ke pantai. Mungkin sejak itulah ikatan emosional antara saya dan pantai terjalin dan menjadi semakin kuat   hingga saya beranjak dewasa.

Pantai selalu menjadi teman yang selalu menerima apa adanya saya.

Minggu, 12 Januari 2014

Persahabatan

I love these two guys.

Spongebob: “What if I break your trust someday?”
Patrick: “Trusting you is my decision, proving me wrong is your choice.”

—-

I think, that’s what a frienship supposed to be like. Trusting each other. Menerima satu sama lain, apa adanya. Tetap menerima ketika sahabat melakukan kesalahan, bukan malah menjauh.

Spongebob seems don’t mind if Patrick is damn idiot. Spongebob pernah berpura-pura menjadi sangat bodoh demi Patrick. Dan Patrick adalah sahabat yang paling setia. Bahkan ketika Spongebob menjadi kaya raya, kemudian pergi meninggalkan Patrick dan kawan-kawannya. Lalu, Spongebob kembali miskin, Patrick adalah orang pertama yang menerima Spongebob kembali.

Patrick once said:
“Knowledge cannot replace friendship. I’d rather be an idiot than lose you.”

And

Spongebob: “What do you do when I’m gone?”
Patrick: “Wait for you to come back.”

Banyak sekali dialogue-dialogue antara Spongebob dan Patrick yang (menurut saya) sangat bagus.
Dan, karena dialogue-dialogue tersebut orang-orang sering bilang bahwa Spongebob dan Patrick are gay. Hahaha how funny is that? Either they’re gay or not, d’apres moi, persahabatan antara Spongebob dan Patrick itu adalah salah satu persahabatan terbaik.

Kisah Perjalanan - 1

Ini cerita tentang perjalanan…
Ini cerita tentang pencarian…
Tapi, ini bukan cerita tentang kehilangan…
Ini tentang ketidakhadiran…
Pencarian jati diri, sosok, dan spiritualitas.

—-

Jakarta, 10 Januari

Panggilan terakhir dari operator stasiun kereta api Senen telah berbunyi. Raga sudah duduk di dalam kereta sambil mendengarkan musik dari iPod miliknya sambil bermain game. Bagi Raga, perjalanannya kali ini tidak berbeda dengan semua perjalanan yang pernah ia lakukan sebelumnya. Untuk menghilangkan rasa penatnya terhadap rutinitas di ibukota. Destinasi favoritnya adalah Bali. Di sana, ia menemukan kedamaian. Ia merasa tenang. Energi spiritualitasnya seperti terisi kembali. Ia merasa sangat dekat dengan Tuhan. Namun, yang berbeda dari perjalanannya kali ini adalah pilihannya untuk menggunakan transportasi darat, kereta api. Ia ingin menikmati perjalanan. Ia ingin merasakan setiap inchi udara yang dapat ia hirup dari barat Pulau Jawa hingga ke ujung timur pulau para wali tersebut.

Begitu pula Aline. Ini merupakan perjalanan pertamanya, yang ia lakukan benar-benar sendiri. Perjalanannya kali ini merupakan ekspresi kebebasannya atas segala beban yang ia pikul selama ini. Ia ingin meluapkan segala emosi. Ia ingin memberi reward bagi dirinya, bagi jiwanya.  Baginya, tidak masalah sejauh apa perjalanan yang akan ia tempuh menuju Pulau Dewata, yang ia cari bukan di sana, tetapi sosok yang selama ini ia cari, ia rindukan, mungkin saja akan ia temukan selama perjalanan tersebut. Paling tidak, dari perjalanannya kali ini, ia ingin menghirup sedikit saja oksigen yang sama dengan orang yang ia rindukan. Mungkin.

—-

Aline, walau bagaimana pun, ia tetaplah seorang perempuan yang akan sibuk mengurusi hal sekecil apa pun. Ia orang yang sangat detil. Ia ingin perjalanannya ini berjalan dengan baik. Ia tidak ingin ada satu barang pun yang tertinggal. Sejauh itu pula ia telah mengemasi barang-barang yang akan ia bawa.
Pagi hari, Aline sudah bersiap-siap. Ia akan diantar oleh kekasihnya, Randi. Pria yang begitu over-protective terhadap Aline. Berkali-kali Randi meminta agar Ia dapat menemani Alin, berkali-kali ia meminta Aline untuk menggunakan transportasi udara saja, yang lebih cepat dan nyaman. Tapi, berkali-kali pula Aline menolak permintaan Randi tersebut. Randi seperti sudah kehabisan akal. Ia tahu, Aline orang yang keras. Ia akan tetap melakukan apa yang ingin ia lakukan.

Di saat yang sama, seorang pria dengan perawakan cukup tinggi dengan tas backpack sudah duduk di kereta yang dalam beberapa menit lagi akan memacu lajunya. Dengan tempat duduk yang tidak terlalu bagus, namun tetap nyaman.

Aline sesekali memperhatikan sekitar. Penumpang di sebelahnya, seorang ibu-ibu yang akan turun di Semarang, sejak tadi tidur. Aline sempat bercengkrama dengan perempuan tersebut. Aline mulai dilanda rasa bosan. Namun ia ingin tetap terjaga. Meskipun tidak ada pemandangan di luar yang dapat dinikmati, bagi Aline perjalanan malam merupakan perjalanan untuk lebih memaknai dan merasakan perjalanan tersebut. Di tempat lain, kereta yang ditumpangi oleh Raga sedang berhenti di stasiun Cirebon. Begitu banyak pedagang yang lalu-lalang menjajakan barang dagangannya. Praktis, kereta ekonomi yang sudah ramai semakin ramai saja. Raga tidak terusik. Sesekali ia melempar senyum kepada penumpang yang berada di hadapan dia. Kereta mulai berangkat.

—-

Surabaya, 11 Januari

Perjalanan dari Surabaya ke Pelabuhan Ketapang, Banyuwangi memakan waktu yang cukup lama, sekitar 6 jam lebih. Perjalanan ini yang Aline tunggu. Ia terus membayangkan sosok yang seharusnya ada dalam hidupnya, namun sosok tersebut tidak pernah hadir. Dinginnya AC bus eksekutif Surabaya – Denpasar cukup mampu meredam panas dan lembabnya udara di kota metropolis terbesar di wilayah Timur Indonesia ini.
Bus dari Surabaya menuju Denpasar ini begitu ‘kasar’ dikemudikan. Sang supir baru akan mengendurkan laju busnya kalau ada penumpang baru yang akan naik. Para penumpang itu lebih didominasi oleh warga asing, yang entah dari mana, yang akan menuju Bali.
Ketika bus yang mereka tumpangi beristirahat untuk makan siang di sebuah rumah makan, di meja makan yang berseberangan, mata Raga dan Aline tidak sengaja bertemu. Raga langsung melempar pandangan, sedangkan Aline melanjutkan suapannya. Raga tidak menyangka bahwa Ia berada dalam bus yang sama dengan perempuan cantik tersebut. Sudah cukup lama rasanya ia berada di dalam bus, tetapi ia tidak pernah melihatnya.

Selesai makan siang, semua penumpang kembali ke dalam bus. Raga yang sudah masuk dan duduk di dalam bus, melempar pandangan ke sekeliling, namun ia tidak melihat sosok perempuan yang ia lihat di rumah makan tadi. Mungkin ia bukan penumpang bus ini, batinnya. Namun, ketika bus hendak berangkat, terlihat seorang perempuan yang tergopoh-gopoh sehabis berlari. Perempuan tersebut hampir saja ketinggalan bus. Dan perempuan tersebut langsung menuju ke tempat duduk bagian belakang, jauh di belakang tempat duduk Raga.

Banyuwangi, 11Januari

Menjelang jam 6 sore, bus sudah memasuki kapal. Dari pelabuhan Ketapang, kapal mulai menarik jangkarnya. Suara kapal mulai menderu. Sementara para penumpang lain mulai keluar untuk menuju geladak kapal, Raga seperti sedang tidak ingin beranjak dari dalam bus. Toh perjalanan tersebut hanya memakan waktu kurang dari satu jam, pikir Raga. Dilihatnya sosok perempuan yang Ia lihat sejak di rumah makan tadi. Rasa penasaran Raga akan perempuan tersebut membuatnya mau ikut turun. Aline, hanya duduk saja sambil sesekali melepaskan pandangan ke laut lepas. Di genggamannya terdapat sebuah buku, entah apa. Raga memutar otak agar dapat bertegur sapa dengan perempuan tersebut. Lama ia tertegun, sampai akhirnya ia sadar perempuan tersebut sudah tidak lagi berada di tempatnya. Yang lebih mengejutkan Raga adalah perempuan itu sudah ada berdiri dengan beberapa jarak di sampingnya, berdiri di pinggiran kapal. Perempuan tersebut kemudian menoleh, sambil menunjukkan buku yang ia pegang, “Mau baca?” Ia membuka percakapan. Rasa kikuk menyergapi Raga, namun ia berusaha untuk tetap tenang. Diambilnya buku tersebut, sambil memberikan senyum. “Nayla” baca Raga. “Djenar cerdas” jawab perempuan tersebut. “Aline” lanjutnya. Raga sempat bingung, namun secepat kilat ia menyadari, itu nama perempuan yang berdiri di hadapannya, “Saya Raga”. Kemudian, keduanya lebih banyak diam.

Denpasar, 11 Januari

Kapal bersandar. Bus mulai bergerak ke luar. Namun, sebelum keluar pelabuhan dan masuk ke Bali, terlebih dahulu para penumpang yang akan memasuki Bali diwajibkan untuk melalui pos pemeriksaan dengan menunjukkan kartu identitas.
Keluar dari pelabuhan, suasana Bali mulai terasa ketika bus sudah memasuki wilayah Negara. Perjalanan tersebut cukup memakan waktu, hampir 3 jam. Bus tersebut melaju dengan kecepatan yang cukup tinggi, sehingga membuat penumpang hampir copot jantung, termasuk Raga dan Aline. Apalagi ditambah kontur sepanjang perjalanan dari Negara menuju Denpasar yang naik turun dan berkelok-kelok, membuat perjalanan 3 jam terasa menjadi sangat lama. Untuk menghilangkan rasa takutnya, Raga lebih memilih tidur. Sedangkan Aline yang berada di barisan bangku belakang, merasakan ketegangan yang lebih tinggi akibat pergerakan badan bus. Aline terus memandang ke luar bus dan sesekali melihat ke langit. Malam hari ini begitu indah, dengan bulan purnama yang hampir penuh. Aline melihat begitu banyak bintang, jauh lebih banyak dari yang pernah ia lihat. Apalagi langit Jakarta yang begitu angkuh menghalangi kerlip bintang yang seperti sudah kehabisan bahan bakar hingga tak kuasa menembus tebalnya polusi ibukota. Aline terus memandangi langit, berharap satu saja bintang jatuh agar ia dapat memohon suatu keajaiban. Permohonan yang sudah lama ia pendam. — Di bawah langit yang sama, dengan rembulan yang bersinar sama terangnya, mungkin saja kau juga sedang mengingat ku. Aku yang mungkin saja tak kau rindukan lagi. Tapi, aku begitu merindukan mu—, Batin Aline. Ini adalah yang kesekian kalinya Aline teringat akan sosok tersebut. Sosok yang begitu jauh hingga hampir tak ia kenal, namun begitu dekat, begitu nyata di lubuk hatinya.

——-

Perspektif

Sebenarnya apa sih standar sesuatu hal menjadi baik atau buruk? Jika dipandang dari perspektif agama, sesuatu menjadi baik ketika hal tersebut sesuai dengan perintah dalam agama. Dalam kehidupan sosial, sesuatu hal dapat dikatakan baik jika sesuai dengan norma yang berlaku dalam lingkup sosial tersebut. Baik bagi agama A belum tentu menjadi baik di agama B. Baik bagi lingkup sosial X belum tentu baik bagi lingkup sosial Y. Begitu pun sebaliknya. Tambah rumit lagi ketika dalam kehidupan nyata, ada begitu banyak agama dan kepercayaan, juga lingkup sosial (budaya, adat-istiadat) yang begitu beragam. Artinya, suatu hal menjadi baik atau buruk tergantung dari perspektif mana yang memandang. Baik dan buruk menjadi begitu subjektif.

Ketika memasuki tahun 2014, terjadi hal yang menghebohkan. Yaitu, terjadinya penggerebekan terhadap terduga anggota teroris di Pamulang, Tangerang Selatan yang berujung pada tewasnya salah satu anggota terduga teroris tersebut. Kemudian terjadi pro-kontra di masyarakat mengenai isu penembakan oleh Densus 88 tersebut.

Kemudian, dalam film-film Hollywood sering digambarkan tentang negara Amerika yang melawan sekelompok orang yang mereka anggap teroris yang berasal dari -biasanya- Rusia, Asia, dan yang paling baru menjadi musuh negara Amerika dalam film adalah orang-orang Timur Tengah yang biasanya diidentifikasi beragama Islam. Dalam film-film tersebut, tentu karena dibuat oleh Hollywood, maka yang menjadi pahlawan yang tentu 'baik' adalah Amerika. Sedangkan lawannya tentu menjadi 'buruk'. Sekali lagi perspektif.

Jika kita mengubah cara pandang, Rusia, atau Timur Tengah tentu mempunyai kepentingan tersendiri dan mereka berkewajiban untuk membela dan mempertahankan kepentingan negara atau kelompoknya, tentu yang menjadi penjahat atau teroris di sini adalah Amerika yang dianggap mau menghancurkan negara atau kelompok tersebut.
Contoh lain adalah Perang Vietnam. Dalam sejarah nyata Perang Vietnam terjadi ketika negara Amerika Serikat, yang menjadi negara Adidaya pasca Perang Dingin dan PD II, menginvasi negara Vietnam. Sehingga, meletuslah perang tersebut yang berujung pada kemenangan Vietnam. Jika dilihat dari perspektif Vietnam, tentu saja mereka wajib membela dan berjuang hingga titik darah penghabisan melawan invasi dari negata asing penjajah. Dalam perspektif negara Vietnam, Amerika adalah penjahat.  Sejarah ini kemudian difilmkan oleh Hollywood (Amerika) dengan perspektif -tentu saja- Amerika sebagai pahlawan. Sekali lagi perspektif.

Dengan demikian, baik atau buruk itu menjadi semakin bias.

Semua hal bisa menjadi buruk bin jahat dan semua hal bisa menjadi baik. Yang membedakan keduanya adalah jumlah. Ketika suatu hal dilakukan secara masif, maka hal tersebut menjadi 'baik'. Sedangkan yang dilakukan oleh sebagian kecil orang, akan menjadi aneh, asing, tidak baik, dan seterusnya.