Selasa, 14 Januari 2014

Kebebasan oleh Sartre

Bonjour à tous,

Akhirnya bisa nulis lagi di blog ini.
Pada kesempatan kali ini, saya akan menulis tentang konsep kebebasan yang dikemukakan oleh salah seorang pemikir besar Prancis, Jean-Paul Sartre dalam tulisannya yang berjudul “L’extentialisme est un humanisme atau Extentialism is humanism”.

Jean-Paul Sartre adalah seorang penganut filsafat ekstensialisme dari Prancis. Selain seorang filsuf, ia juga merupakan seorang sastrawan besar Prancis.
Ekstensialisme adalah pemikiran tentang modus keberadaan, kesadaran individu sebagai subjek. Dengan akal budi, manusia dapat menyadari eksistensinya (modus berada).

Sartre percaya bahwa eksistensi mendahului esensi (l’existence précède l’essence). Artinya, manusia lahir ke dunia, kemudian menjadi ‘sesuatu’. Sartre menganggap bahwa manusia seperti ‘terlempar’ begitu saja ke dunia, lalu akan menjadi apa manusia (individu) tersebut, tergantung dari pilihan yang ia ambil. Hal tersebut bertentangan dengan konsep yang terdapat dalam agama, yaitu manusia diturunkan ke dunia dengan tujuan. – Dan saya percaya bahwa manusia diturunkan ke dunia dengan tujuan yang telah ditetapkan oleh Tuhan (l’essence précède l’existence atau esensi mendahului eksistensi), baik itu untuk menebus dosa Adam dan Hawa, menjadi khalifah (pemimpin) di muka bumi, dan yang pasti untuk bersujud ke pada-Nya. Apakah manusia akan mengikuti esensi tersebut atau tidak, itu tergantung dari pilihan manusia (individu) sebagai mahluk bebas yang diberi akal dan pikiran. –
Yang membuat saya tertarik dengan pemikiran Sartre adalah konsep kebebasan yang dikemukan oleh Sartre. Manusia, sebagai mahluk yang paling sempurna, yang diberi akal dan pikiran, menurut Sartre mampu melakukan apa pun. Dalam pemikirannya, Sartre yang menegasikan (meniadakan) Tuhan. – meniadakan bukan berarti tidak mengakui adanya Tuhan –, menganggap bahwa manusia adalah subjek atas dirinya sendiri.

Yang ingin saya tekankan di sini adalah bahwa kita, sebagai mahluk ‘bebas’, harus bertanggung jawab atas semua pilihan yang kita ambil. Jangan pernah menyalahkan orang lain (mauvaise foi) karena sesungguhnya kita mempunyai pilihan yang bebas.

Pantai

Tiba-tiba teringat sepenggal puisi yang dibacakan oleh Dian Sastro dalam film Ada Apa Dengan Cinta (AADC) yang berbunyi:

Ku berlari ke pantai, kemudian teriakku
Sepi...

Kenapa pantai? Kenapa tidak gunung? Mungkin karena dibutuhkan perjuangan ekstra untuk bisa sampai ke gunung. Jadi, dipilihlah pantai yang relatif lebih mudah untuk dicapai. *Asal*

Tapi, bagi saya pantai adalah tujuan favorite. Air laut, ombak dan pasir pantai adalah media untuk saya menyembuhkan luka. Baik luka fisik maupun luka emosional.
Memandang cakrawala tanpa batas, harmonisasi antara desiran ombak dan desau angin yang menerpa, menjadi nyanyian alam yang paling merdu yang mampu mengobati luka yang saya alami.


Ketika saya sudah merasa terlalu lelah dengan berbagai situasi hidup yang saya hadapi, saya selalu menyempatkan diri untuk pergi ke pantai. Lautan luas, tidak ada hal yang mampu menghalangi pandangan, tidak perlu menengadah untuk melihat langit. Saya merasa begitu  dekat dengan Tuhan. Saya merasa Tuhan memberikan obat bagi luka di jiwa saya melalui terpaan angin di kulit saya dan juga melalui suara ombak yang saya dengar.

Saya suka laut dan pantai sejak kecil. Saya ingat, dulu ketika kecil ibu sering mengajak saya ke pantai. Mungkin sejak itulah ikatan emosional antara saya dan pantai terjalin dan menjadi semakin kuat   hingga saya beranjak dewasa.

Pantai selalu menjadi teman yang selalu menerima apa adanya saya.

Minggu, 12 Januari 2014

Persahabatan

I love these two guys.

Spongebob: “What if I break your trust someday?”
Patrick: “Trusting you is my decision, proving me wrong is your choice.”

—-

I think, that’s what a frienship supposed to be like. Trusting each other. Menerima satu sama lain, apa adanya. Tetap menerima ketika sahabat melakukan kesalahan, bukan malah menjauh.

Spongebob seems don’t mind if Patrick is damn idiot. Spongebob pernah berpura-pura menjadi sangat bodoh demi Patrick. Dan Patrick adalah sahabat yang paling setia. Bahkan ketika Spongebob menjadi kaya raya, kemudian pergi meninggalkan Patrick dan kawan-kawannya. Lalu, Spongebob kembali miskin, Patrick adalah orang pertama yang menerima Spongebob kembali.

Patrick once said:
“Knowledge cannot replace friendship. I’d rather be an idiot than lose you.”

And

Spongebob: “What do you do when I’m gone?”
Patrick: “Wait for you to come back.”

Banyak sekali dialogue-dialogue antara Spongebob dan Patrick yang (menurut saya) sangat bagus.
Dan, karena dialogue-dialogue tersebut orang-orang sering bilang bahwa Spongebob dan Patrick are gay. Hahaha how funny is that? Either they’re gay or not, d’apres moi, persahabatan antara Spongebob dan Patrick itu adalah salah satu persahabatan terbaik.

Kisah Perjalanan - 1

Ini cerita tentang perjalanan…
Ini cerita tentang pencarian…
Tapi, ini bukan cerita tentang kehilangan…
Ini tentang ketidakhadiran…
Pencarian jati diri, sosok, dan spiritualitas.

—-

Jakarta, 10 Januari

Panggilan terakhir dari operator stasiun kereta api Senen telah berbunyi. Raga sudah duduk di dalam kereta sambil mendengarkan musik dari iPod miliknya sambil bermain game. Bagi Raga, perjalanannya kali ini tidak berbeda dengan semua perjalanan yang pernah ia lakukan sebelumnya. Untuk menghilangkan rasa penatnya terhadap rutinitas di ibukota. Destinasi favoritnya adalah Bali. Di sana, ia menemukan kedamaian. Ia merasa tenang. Energi spiritualitasnya seperti terisi kembali. Ia merasa sangat dekat dengan Tuhan. Namun, yang berbeda dari perjalanannya kali ini adalah pilihannya untuk menggunakan transportasi darat, kereta api. Ia ingin menikmati perjalanan. Ia ingin merasakan setiap inchi udara yang dapat ia hirup dari barat Pulau Jawa hingga ke ujung timur pulau para wali tersebut.

Begitu pula Aline. Ini merupakan perjalanan pertamanya, yang ia lakukan benar-benar sendiri. Perjalanannya kali ini merupakan ekspresi kebebasannya atas segala beban yang ia pikul selama ini. Ia ingin meluapkan segala emosi. Ia ingin memberi reward bagi dirinya, bagi jiwanya.  Baginya, tidak masalah sejauh apa perjalanan yang akan ia tempuh menuju Pulau Dewata, yang ia cari bukan di sana, tetapi sosok yang selama ini ia cari, ia rindukan, mungkin saja akan ia temukan selama perjalanan tersebut. Paling tidak, dari perjalanannya kali ini, ia ingin menghirup sedikit saja oksigen yang sama dengan orang yang ia rindukan. Mungkin.

—-

Aline, walau bagaimana pun, ia tetaplah seorang perempuan yang akan sibuk mengurusi hal sekecil apa pun. Ia orang yang sangat detil. Ia ingin perjalanannya ini berjalan dengan baik. Ia tidak ingin ada satu barang pun yang tertinggal. Sejauh itu pula ia telah mengemasi barang-barang yang akan ia bawa.
Pagi hari, Aline sudah bersiap-siap. Ia akan diantar oleh kekasihnya, Randi. Pria yang begitu over-protective terhadap Aline. Berkali-kali Randi meminta agar Ia dapat menemani Alin, berkali-kali ia meminta Aline untuk menggunakan transportasi udara saja, yang lebih cepat dan nyaman. Tapi, berkali-kali pula Aline menolak permintaan Randi tersebut. Randi seperti sudah kehabisan akal. Ia tahu, Aline orang yang keras. Ia akan tetap melakukan apa yang ingin ia lakukan.

Di saat yang sama, seorang pria dengan perawakan cukup tinggi dengan tas backpack sudah duduk di kereta yang dalam beberapa menit lagi akan memacu lajunya. Dengan tempat duduk yang tidak terlalu bagus, namun tetap nyaman.

Aline sesekali memperhatikan sekitar. Penumpang di sebelahnya, seorang ibu-ibu yang akan turun di Semarang, sejak tadi tidur. Aline sempat bercengkrama dengan perempuan tersebut. Aline mulai dilanda rasa bosan. Namun ia ingin tetap terjaga. Meskipun tidak ada pemandangan di luar yang dapat dinikmati, bagi Aline perjalanan malam merupakan perjalanan untuk lebih memaknai dan merasakan perjalanan tersebut. Di tempat lain, kereta yang ditumpangi oleh Raga sedang berhenti di stasiun Cirebon. Begitu banyak pedagang yang lalu-lalang menjajakan barang dagangannya. Praktis, kereta ekonomi yang sudah ramai semakin ramai saja. Raga tidak terusik. Sesekali ia melempar senyum kepada penumpang yang berada di hadapan dia. Kereta mulai berangkat.

—-

Surabaya, 11 Januari

Perjalanan dari Surabaya ke Pelabuhan Ketapang, Banyuwangi memakan waktu yang cukup lama, sekitar 6 jam lebih. Perjalanan ini yang Aline tunggu. Ia terus membayangkan sosok yang seharusnya ada dalam hidupnya, namun sosok tersebut tidak pernah hadir. Dinginnya AC bus eksekutif Surabaya – Denpasar cukup mampu meredam panas dan lembabnya udara di kota metropolis terbesar di wilayah Timur Indonesia ini.
Bus dari Surabaya menuju Denpasar ini begitu ‘kasar’ dikemudikan. Sang supir baru akan mengendurkan laju busnya kalau ada penumpang baru yang akan naik. Para penumpang itu lebih didominasi oleh warga asing, yang entah dari mana, yang akan menuju Bali.
Ketika bus yang mereka tumpangi beristirahat untuk makan siang di sebuah rumah makan, di meja makan yang berseberangan, mata Raga dan Aline tidak sengaja bertemu. Raga langsung melempar pandangan, sedangkan Aline melanjutkan suapannya. Raga tidak menyangka bahwa Ia berada dalam bus yang sama dengan perempuan cantik tersebut. Sudah cukup lama rasanya ia berada di dalam bus, tetapi ia tidak pernah melihatnya.

Selesai makan siang, semua penumpang kembali ke dalam bus. Raga yang sudah masuk dan duduk di dalam bus, melempar pandangan ke sekeliling, namun ia tidak melihat sosok perempuan yang ia lihat di rumah makan tadi. Mungkin ia bukan penumpang bus ini, batinnya. Namun, ketika bus hendak berangkat, terlihat seorang perempuan yang tergopoh-gopoh sehabis berlari. Perempuan tersebut hampir saja ketinggalan bus. Dan perempuan tersebut langsung menuju ke tempat duduk bagian belakang, jauh di belakang tempat duduk Raga.

Banyuwangi, 11Januari

Menjelang jam 6 sore, bus sudah memasuki kapal. Dari pelabuhan Ketapang, kapal mulai menarik jangkarnya. Suara kapal mulai menderu. Sementara para penumpang lain mulai keluar untuk menuju geladak kapal, Raga seperti sedang tidak ingin beranjak dari dalam bus. Toh perjalanan tersebut hanya memakan waktu kurang dari satu jam, pikir Raga. Dilihatnya sosok perempuan yang Ia lihat sejak di rumah makan tadi. Rasa penasaran Raga akan perempuan tersebut membuatnya mau ikut turun. Aline, hanya duduk saja sambil sesekali melepaskan pandangan ke laut lepas. Di genggamannya terdapat sebuah buku, entah apa. Raga memutar otak agar dapat bertegur sapa dengan perempuan tersebut. Lama ia tertegun, sampai akhirnya ia sadar perempuan tersebut sudah tidak lagi berada di tempatnya. Yang lebih mengejutkan Raga adalah perempuan itu sudah ada berdiri dengan beberapa jarak di sampingnya, berdiri di pinggiran kapal. Perempuan tersebut kemudian menoleh, sambil menunjukkan buku yang ia pegang, “Mau baca?” Ia membuka percakapan. Rasa kikuk menyergapi Raga, namun ia berusaha untuk tetap tenang. Diambilnya buku tersebut, sambil memberikan senyum. “Nayla” baca Raga. “Djenar cerdas” jawab perempuan tersebut. “Aline” lanjutnya. Raga sempat bingung, namun secepat kilat ia menyadari, itu nama perempuan yang berdiri di hadapannya, “Saya Raga”. Kemudian, keduanya lebih banyak diam.

Denpasar, 11 Januari

Kapal bersandar. Bus mulai bergerak ke luar. Namun, sebelum keluar pelabuhan dan masuk ke Bali, terlebih dahulu para penumpang yang akan memasuki Bali diwajibkan untuk melalui pos pemeriksaan dengan menunjukkan kartu identitas.
Keluar dari pelabuhan, suasana Bali mulai terasa ketika bus sudah memasuki wilayah Negara. Perjalanan tersebut cukup memakan waktu, hampir 3 jam. Bus tersebut melaju dengan kecepatan yang cukup tinggi, sehingga membuat penumpang hampir copot jantung, termasuk Raga dan Aline. Apalagi ditambah kontur sepanjang perjalanan dari Negara menuju Denpasar yang naik turun dan berkelok-kelok, membuat perjalanan 3 jam terasa menjadi sangat lama. Untuk menghilangkan rasa takutnya, Raga lebih memilih tidur. Sedangkan Aline yang berada di barisan bangku belakang, merasakan ketegangan yang lebih tinggi akibat pergerakan badan bus. Aline terus memandang ke luar bus dan sesekali melihat ke langit. Malam hari ini begitu indah, dengan bulan purnama yang hampir penuh. Aline melihat begitu banyak bintang, jauh lebih banyak dari yang pernah ia lihat. Apalagi langit Jakarta yang begitu angkuh menghalangi kerlip bintang yang seperti sudah kehabisan bahan bakar hingga tak kuasa menembus tebalnya polusi ibukota. Aline terus memandangi langit, berharap satu saja bintang jatuh agar ia dapat memohon suatu keajaiban. Permohonan yang sudah lama ia pendam. — Di bawah langit yang sama, dengan rembulan yang bersinar sama terangnya, mungkin saja kau juga sedang mengingat ku. Aku yang mungkin saja tak kau rindukan lagi. Tapi, aku begitu merindukan mu—, Batin Aline. Ini adalah yang kesekian kalinya Aline teringat akan sosok tersebut. Sosok yang begitu jauh hingga hampir tak ia kenal, namun begitu dekat, begitu nyata di lubuk hatinya.

——-

Perspektif

Sebenarnya apa sih standar sesuatu hal menjadi baik atau buruk? Jika dipandang dari perspektif agama, sesuatu menjadi baik ketika hal tersebut sesuai dengan perintah dalam agama. Dalam kehidupan sosial, sesuatu hal dapat dikatakan baik jika sesuai dengan norma yang berlaku dalam lingkup sosial tersebut. Baik bagi agama A belum tentu menjadi baik di agama B. Baik bagi lingkup sosial X belum tentu baik bagi lingkup sosial Y. Begitu pun sebaliknya. Tambah rumit lagi ketika dalam kehidupan nyata, ada begitu banyak agama dan kepercayaan, juga lingkup sosial (budaya, adat-istiadat) yang begitu beragam. Artinya, suatu hal menjadi baik atau buruk tergantung dari perspektif mana yang memandang. Baik dan buruk menjadi begitu subjektif.

Ketika memasuki tahun 2014, terjadi hal yang menghebohkan. Yaitu, terjadinya penggerebekan terhadap terduga anggota teroris di Pamulang, Tangerang Selatan yang berujung pada tewasnya salah satu anggota terduga teroris tersebut. Kemudian terjadi pro-kontra di masyarakat mengenai isu penembakan oleh Densus 88 tersebut.

Kemudian, dalam film-film Hollywood sering digambarkan tentang negara Amerika yang melawan sekelompok orang yang mereka anggap teroris yang berasal dari -biasanya- Rusia, Asia, dan yang paling baru menjadi musuh negara Amerika dalam film adalah orang-orang Timur Tengah yang biasanya diidentifikasi beragama Islam. Dalam film-film tersebut, tentu karena dibuat oleh Hollywood, maka yang menjadi pahlawan yang tentu 'baik' adalah Amerika. Sedangkan lawannya tentu menjadi 'buruk'. Sekali lagi perspektif.

Jika kita mengubah cara pandang, Rusia, atau Timur Tengah tentu mempunyai kepentingan tersendiri dan mereka berkewajiban untuk membela dan mempertahankan kepentingan negara atau kelompoknya, tentu yang menjadi penjahat atau teroris di sini adalah Amerika yang dianggap mau menghancurkan negara atau kelompok tersebut.
Contoh lain adalah Perang Vietnam. Dalam sejarah nyata Perang Vietnam terjadi ketika negara Amerika Serikat, yang menjadi negara Adidaya pasca Perang Dingin dan PD II, menginvasi negara Vietnam. Sehingga, meletuslah perang tersebut yang berujung pada kemenangan Vietnam. Jika dilihat dari perspektif Vietnam, tentu saja mereka wajib membela dan berjuang hingga titik darah penghabisan melawan invasi dari negata asing penjajah. Dalam perspektif negara Vietnam, Amerika adalah penjahat.  Sejarah ini kemudian difilmkan oleh Hollywood (Amerika) dengan perspektif -tentu saja- Amerika sebagai pahlawan. Sekali lagi perspektif.

Dengan demikian, baik atau buruk itu menjadi semakin bias.

Semua hal bisa menjadi buruk bin jahat dan semua hal bisa menjadi baik. Yang membedakan keduanya adalah jumlah. Ketika suatu hal dilakukan secara masif, maka hal tersebut menjadi 'baik'. Sedangkan yang dilakukan oleh sebagian kecil orang, akan menjadi aneh, asing, tidak baik, dan seterusnya.

Jumat, 10 Januari 2014

Trip To Lampung Selatan

Trip to Lampung Selatan

Kali ini saya akan menceritakan pengalaman saya saat ‘backpacking’ with my sisters, Aziza dan Meisya ke Lampung. Sebenernya ini ga bisa sepenuhnya disebut backpacking. Kenapa? Satu, karena kami pergi ga bawa yang namanya  tas ransel yang menjadi ciri khas liburan à la backpacker. My sister forced me to bring luggage -.-. Ya sudah, nurut aja. Walaupun jadinya agak repot sih karena harus nyeret-nyeret koper padahal liburan dengan transportasi umum yang ribet.

Sebenernya short trip kali ini bener-bener ga direncanain sama sekali (baca: dadakan). Dan saya percaya sama yang namanya ‘The power of words’. Jadi, pada hari selasa tanggal 15 Oktober 2013, dini hari, saya sempet nge-tweet begini “Tiba-tiba semangat buat cari duit dan nabung, buat berpetualang. Indonesia terlalu indah untuk dilewatkan”. Di saat insomnia begitu, tiba-tiba aja pengen nulis status kaya gitu di twitter. Eh, bener aja dua hari kemudian, tepatnya pada hari kamis 17 Oktober 2013, saat lagi ngobrol-ngobrol santai di sore hari sama kakak perempuan saya, dia nawarin aja gitu buat ke Lampung. Saya langsung semangat meng-iya-kan. Kebetulan dia punya temen orang Lampung. Jadi lah kami nanya-nanya pantai yang bagus buat liburan di Lampung. Kebetulan, saya dan kakak saya adalah pecinta pantai. Hehe :D

Saya juga googling pantai-pantai di Lampung dan hasilnya banyak banget pantai-pantai di Lampung yang masih bagus. Beberapa yang banyak ‘direkomendasi’ oleh mbah Google adalah Pantai Wartawan dan Pantai Merak Belantung. Dan setelah melihat di salah satu video di Youtube tentang Pantai Merak Belantung, saya pun langsung menjatuhkan pilihan saya ke Merak Belantung dibading Pantai Wartawan. Alasannya, setelah googling Pantai Wartawan ini  aksesnya susah kalau tidak bawa kendaraan pribadi. Selain itu, dilihat di Google Images juga Pantai Wartawan ini kurang saya suka karena banyak karang.

Malam harinya, kami pun packing. Pakaian saya, kakak dan adik perempuan saya dimasukkan dalam satu koper. Sedangkan peralatan lain seperti kamera, cemilan selama perjalanan, dan barang-barang lain yang tidak muat di dalam koper, dimasukkan ke dalam dua tas yang masing-masing dibawa oleh kakak dan adik saya. Saya kebagian buat nyeret koper -.-
Keesokan harinya, tepatnya pada tanggal 18 Oktober sekitar pukul 13:30, kami berangkat. Kebetulan rumah saya di Ibukota Provinsi Banten, Serang yang tidak terlalu jauh dari Lampung (jika dibandingkan jarak Jakarta-Lampung). Jadi, Serang ini ada di tengah-tengah antara Jakarta dan Lampung. Sebelum berangkat, kami menyempatkan diri berfoto-foto dulu. We were so excited due to it was the very first time for us to go backpacking just the three of us. Sama-sama ga tau daerah Lampung pula. Intinya NekaD pake D. Dari rumah, kami menyewa taksi sampe Patung (terminal bayangan di pintu tol Serang Timur Rp. 40 ribu). Dari Patung, kami naik bis ke Merak dengan ongkos Rp. 10 ribu. (Untuk yang dari Jakarta, bisa naik bus apa pun yang tujuannya ke Merak. Bisa dari Kp. Rambutan, Kalideres, Pulogadung, Tj. Periok, Slipi (seberang RS. Harapan Kita), Kebon Jeruk atau dari mana pun yang penting tujuan akhirnya Merak, ongkosnya Rp. 20 ribu). Kemudian kami turun di terminal terpadu Merak. Sebenernya jarak dari terminal ke pelabuhan ini deket banget, tinggal jalan kaki seiprit langsung nyampe. Tapi, karena bawa dua saudara perempuan yang manja banget, alhasil kami naik ojek dengan biaya Rp. 5 ribu per ojek. Sampe pelabuhan jam 3 sore, kami langsung menuju loket untuk membeli tiket kapal ekonomi seharga Rp. 13 ribu per orang. Ga lama, kapal pun dateng. Langsung aja masuk kapal. Pukul 16:00 kapal mulai tarik jangkar. Lama penyebrangan dari Merak ke Bakauheni, Lampung sekitar 2 jam. Sempet ngerasa agak pusing juga di kapal, selain karena ombak yang lumayan besar, juga karena kapal ekonomi yang jorok dan asap rokok di mana-mana. Pukul 18:30 kapal akhirnya berlabuh di Bakauheni. Turun dari kapal, siap-siap aja dengan banyaknya orang yang menawarkan jasa transportasi (bis, travel) untuk mengantarkan sampe ke tempat tujuan. Tujuan kami adalah Kalianda. Untuk ongkos sendiri, dari Pelabuhan Bakauheni menuju Kalianda ini bervariasi. Angkot Rp. 15 ribu, bis ekonomi Bakauheni – Rajabasa (katanya) Rp. 5 ribu, Travel (mobil pribadi yang dijadikan angkutan umum) biasanya Rp. 15– 25 ribu, tergantung kesepakatan dan kelihaian dalam menawar. Tapi, kami lebih memilih naik angkot karena kami akan menuju rumah salah satu kenalan kakak saya yang berada di Way Gayam yang berada di Kecamatan Penengahan, sebelum Kecamatan Kalianda, Lampung Selatan. Kami turun di perempatan Gayam.

Keesokan harinya, tepat pada hari Sabtu, 19 Oktober 2013, sebelum menuju ke pantai, di desa Way Gayam sedang ada pernikahan yang panggungnya di pinggir jalan, lengkap dengan organ tunggal. Mampir sebentar, dapet makan dan dapet souvenir \(^_^)/ Dan ga sengaja liat marka jalan di desa Way Gayam yang bertuliskan “Pantai Wartawan ke kiri, dan Makan Pahlawan Radin Inten ke kanan”. Kami pun bertanya ke warga setempat tentang lokasi Pantai Wartawan, mereka bilang masih jauh dan aksesnya susah, ga ada transportasi umum menuju ke sana. Apalagi kalau sudah sore. Ini menurut saya salah satu kekurangan di Lampung. Susahnya akses untuk menuju ke tempat-tempat wisata (terutama untuk yang tidak bawa kendaraan pribadi). Padahal, Lampung ini kaya akan potensi wisata dari mulai pantai-pantai pasir putih yang masih alami yang terbentang sepanjang Teluk Lampung, air terjun, tempat-tempat bersejarah, dll.

Akhirnya kami memutuskan untuk pergi ke pantai Merak Belantung yang ada di Kalianda. Kami yang buta akan wilayah dan jalan di Lampung, selalu mengandalkan google untuk mencari akses termudah menuju lokasi. Hasilnya nihil. Sedikit sekali informasi yang bisa diperoleh. Salah satu tempat terpercaya untuk bertanya adalah pegawai Alfamart yang ada di perempatan Gayam. Kami diberitahu bahwa untuk menuju Pantai Merak Belantung, kami harus menyambung angkot dua kali. Yang pertama, naik angkot warna kuning jurusan Bakauheni – Kalianda, dan berhenti di Pasar Kalianda dengan ongkos Rp. 7 ribu (karena kami dari Gayam). Sampai di pasar, kami agak bingung (tipikal orang gatau jalan, serba bingung) harus naik angkot seperti apa. Akhirnya bertanya ke seorang bapak-bapak yang lagi duduk sama anaknya, dikasih tau kalau menuju Merak Belantung sebenarnya lebih mudah naik bis dari Bakauheni yang menuju Rajabasa dan langsung turun di Pertigaan Pantai Merak Belantung. Tapi, karena bis tersebut tidak lewat pasar, alternatif lain adalah menyambung angkot yang warna kuning. Kami bingung, angkot warna kuning adalah angkot yang kami tumpangi tadi. Eh ternyata, warna kuning yang dimaksud si bapak adalah angkot warna oranye dengan kode 002. Sedikit was-was, kami bertanya ke salah satu penumpang di angkot (anak sekolah) apakah benar angkot tersebut menuju Merak Belantung, dan ternyata benar. Lega.
Agak lama juga untuk sampai menuju Merak Belantung. Setelah hampir 20 menit perjalanan dari Pasar Kalianda, akhirnya kami sampai di Pertigaan Pantai Merak Belantung dengan ciri baliho besar bertuliskan “Grand Elty Krakatoa Nirwana Resort” yang cukup eye catching melintang di Jalan Lintas Sumatera. Ongkos dari Pasar menuju Merak Belantung adalah Rp 5 ribu untuk penumpang dewasa, dan Rp 3 ribu untuk penumpang anak-anak.

Sampai di pertigaan, banyak sekali ojek-ojek yang siap mengantarkan pengunjung menuju pantai. Kami langsung didekati oleh tukang-tukang ojek yang siap menawarkan jasanya. Ongkos ojek ini bekisar antara 6 ribu – 10 ribu, tergantung kelihaian dalam menawar. Karena malas nawar, kami diantar menuju pantai Merak Belantung yang berjarak ‘hanya’ 2 KM ini dengan ongkos Rp 10 ribu per ojek. Agak rugi juga sebenarnya, karena jaraknya tidak terlalu jauh. Sebenarnya jarak dari Jalan Lintas Sumatera menuju pantai-pantai ini dekat (untuk yang kuat jalan). Seperti Pantai Bagus, yang berada di KM 1, Pantai Merak Belantung di KM 2, dan Grand Elty yang ada di KM 3. Pantai Merak Belantung adalah salah satu pantai yang masuk ke dalam kawasan Krakatoa Nirwana Resort, yang dikelola oleh Bakrieland.
Di jalan menuju pantai, tukang ojek yang saya tumpangi menawarkan diri untuk menjemput saya karena tidak adanya transportasi dari pantai menuju jalan raya. Saya dikasih nomer hp oleh tukang ojek tsb. Pukul 14:30, kami akhirnya tiba di Pantai Merak Belantung. Kami diantar oleh tukang ojek sampai di loket masuk. Setelah bayar ojek Rp 30 ribu untuk saya, kakak dan adik saya (ngerasa rugi karena jaraknya deket -.-), kami langsung disambut oleh penjaga loket. Kocek yang harus dikeluarkan untuk masuk ke pantai ini sebenarnya cukup murah, hanya Rp. 10 ribu per tiket. Menurut saya worth it  lah. Sampai di pantai, kami langsung tertawa riang gembira melihat hamparan pasir putih yang membentang panjang mengitari Teluk Belantung serta laut biru di depan mata. Ditambah, pantai ini sepi pengunjung (sepi dalam arti positif). Tidak seperti di Anyer yang sudah terlalu membludak. Walaupun sepi, kami tetap merasa aman di sini dan privasi juga terjaga. Seperti private beach jadinya. Pengunjung yang Cuma ada beberapa, hanya duduk-duduk di pondok-pondok yang ada di pinggir pantai. Pondok di sini disewakan dengan harga Rp 20 ribu ‘sepuasnya’ (Beda jauh dengan di Anyer yang harganya mencapai Rp 60 ribu). Kami langsung berfoto-foto dan mandi di pantai. Saking sepinya, bahkan Cuma kami bertiga yang mandi di laut yang sangat biru tersebut. Puas rasanya bisa berjemur, berfoto, dan mandi sepuasnya di pantai yang sepi seperti ini.
Pukul 17:00, kami sudah siap beranjak pulang karena memikirkan tidak adanya transportasi menuju ke jalan raya. Saat menuju ke luar pantai, salah satu tukang ojek yang kami tumpangi tadi sudah menunggu, padahal saya belum sms dia. Namun, kami memutuskan untuk berjalan kaki saja dari Pantai Merak Belantung menuju Jalan Lintas Sumatera (abangnya agak keki juga kayaknya :D). Benar saja, hanya 20 menit waktu yang dibutuhkan untuk keluar dengan jalan kaki. Pukul 17:20 kami sudah berada di jalan raya. Saran saya, kalau pergi ke Pantai Bagus atau Merak Belantung rame-rame (minimal berempat), mending jalan kaki aja. Ga akan kerasa. Toh di antara Pantai Bagus dan Pantai Merak Belantung ada rumah-rumah warga. Nah, kalau ke Grand Elty mending naik ojek. Kalau tidak bawa kendaraan pribadi, mending jangan terlalu sore keluarnya karena sudah jarang ojek.

Sampai di gerbang Krakatoa Nirwana Resort yang berada di pinggir Jalan Lintas Sumatera, kami menunggu angkutan yang akan membawa kami kembali ke Gayam. Kami menunggu angkot oranye yang akan membawa kami ke Pasar Kalianda, namun karena sudah terlalu sore sudah jarang sekali angkot. Untung kami bertemu seorang ibu yang juga sedang menunggu angkutan menuju Gayam. Kami diberitahu bahwa ada akses yang lebih mudah untuk menuju Gayam atau Bakauheni dan sebaliknya, yaitu lebih baik naik bis apapun jurusan bakauheni atau travel (mobil pribadi yang disewakan untuk umum). Karena kalau naik angkot, susah aksesnya kalau malam hari. Untuk ongkos bis dari Merak Belantung menuju Gayam atau menuju Bakau adalah 10 ribu. Sedangkan untuk travel, tergantung kesepakatan dengan supir. Kalau travel dari Merak Belantung menuju Gayam biasanya Rp 10 – 15 ribu, dan menuju Bakauheni adalah Rp 20 – 25 ribu bisa lebih murah tergantung kelihaian dalam bernegosiasi.

Hari minggu yang merupakan hari terakhir kami di Lampung, teman kakak saya mengajak kami untuk pergi menuju pantai yang berada di dekat Gayam. Warga menyebutnya pesisir.  Kami menggunakan 3 buah motor yang dipinjam dari saudara-saudara teman kakak saya tersebut. Oleh sebab Pantai Wartawan berada di jalur yang sama dengan ‘pesisir’, maka kami yang penasaran dengan pantai wartawan meminta untuk pergi ke sana. Pukul 12:30 siang, kami berangkat. Cuaca sedang mendung dengan gerimis kecil. Kami bergegas mempercepat laju motor keluar dari Gayam. Ternyata, cuaca mendung hanya di Gayam. Untuk mencapai lokasi pantai yang berada di Way Muli, Rajabasa kami melalui beberapa desa diantaranya adalah Way Kanan. Jalan menuju ke Way Muli menurut saya sangat menakjubkan. Setelah melewati beberapa desa, jalan mulai menanjak. Semakin lama semakin menanjak disertai jurang di kanan dan kiri jalan. Saya yang membonceng adik saya merasa sangat takjub dengan jalan menuju pantai-pantai yang berada di balik Gunung Rajabasa tersebut. Karena lokasinya yang berada di balik gunung, maka untuk mencapainya harus melalui jalan berkelok dan naik turun. Sangat indah menurut saya. Melewati sawah yang berundak-undak seperti di Ubud. Belum lagi di beberapa titik, dari jalan yang yang berada di atas bukit kita bisa melihat langsung laut yang terhampar luas. Luar biasa sekali pemandangannya. Sayang sekali saya tidak sempat mengambil foto karena naik motor (suatu saat akan pergi ke sini lagi dan mengambil foto). Rasa gembira terus menghampiri saya melihat keindahan alam ciptaan Tuhan yang berada di Lampung Selatan ini. Setelah naik turun, jalanan akhirnya mulai landai dan bersisian dengan pantai. Tidak lama, kami sampai di Pantai Wartawan. Kami terperangah tak percaya. Pantai Wartawan ini keindahannya (menurut saya) terbalik 180 derajat dengan keindahan yang disuguhkan di sepanjang jalan menuju ke sini. Rasa kecewa menyergapi saya. Kendaraan yang masuk ke pantai penuh karang tanpa pasir ini dikenakan Rp 10 ribu. Tidak lama kami berada di sana, bahkan tidak sampai lima menit. Alasan saya tidak menyukai Pantai Wartawan ini adalah karena tidak ada pasir, apalagi pasir putih di pantai ini. Yang ada hanya karang-karang dan sangat ramai warga yang sedang mandi di sana sambil bermain-main. Pantainya juga agak kotor dengan pasir hitam dan sampah. Beberapa meter dari pantai ini juga ternyata tempat berlabuh kapal pengangkut batu-batu besar dari gunung. Semakin membuat jelek pantai ini (sekali lagi menurut saya). Yang mungkin bisa menjadi kelebihan pantai ini adalah lautnya yang tidak berombak dan terdapat sumber air panas di pinggir pantai. Selain itu, terdapat juga air terjun yang berada tidak jauh dari pantai ini.
Akhirnya kami bergegas pergi menyusuri jalan yang mengitari Gunung Rajabasa. Di sepanjang jalan ini, menurut saya lebih banyak pantai yang lebih bagus dari Pantai Wartawan. Setelah beberapa menit berkendara, kami akhirnya sampai di Pantai Banding Resort dan membayar tiket Rp 5 ribu per orang (setelah menolak membayar tiket masuk dengan hitungan motor yang lebih mahal Rp 15 ribu). Begitu masuk, pemandangan yang disuguhkan di pantai ini sangat indah. Pantai Banding Resort yang berada di desa Banding ini memiliki pantai dengan pasir yang cukup putih dan batu-batu yang cukup besar. Yang paling menakjukan menurut saya adalah pemandangan Anak Gunung Krakatau, Pulau Sebuku dan Sebesi yang terlihat dari pantai ini. Pulau Sebuku dan Sebesi sendiri merupakan situs diving dan snorkeling di Lampung. Selain itu, Pantai Banding Resort sangat cocok bagi yang suka berenang di pantai. Lautnya sangat tenang. Bahkan sekitar 20 meter dari bibir pantai, kedalaman air hanya sedada orang dewasa dan airnya sangat jernih. Saya bahkan bisa melihat kaki saya di kedalaman 1.5 meter. Berbeda dengan air laut di Anyer yang sudah keruh atau di Pantai Merak Belantung kemarin. Ketika berenang di atas ban menikmati air laut, pemandangan pun sangat menakjubkan. Di sisi pantai terdapat view Gunung Rajabasa, sedangkan di depannya Gn. Anak Krakatau dan Pulau-pulau sekitarnya. Sangat menakjubkan. Belum puas rasanya berenang ketika senja mulai menjelang. Tetapi, kami sudah harus beranjak karena akan pergi ke Pantai Bom (Pelabuhan Nelayan) di Kalianda yang masih berada di balik Gunung Rajabasa untuk melihat sunset. Pelabuhan kapal nelayan ini juga menjadi tempat wisata kuliner setempat. Jajanan di sini sangat murah menurut saya dan rasanya juga enak. Seperti siomay yang dijual dengan harga Rp 5 ribu per porsi, es air tebu dijual dengan harga Rp 3 ribu per cup. Tempat ini sangat bagus untuk anda yang ingin menikmati senja dengan pemandangan pantai pasir putih di kejauhan, Gn. Anak Krakatau dan pulau-pulau di sekitarnya, Gn. Rajabasa di belakangnya, serta perahu-perahu nelayan yang sedang sandar dan beberapa akan berangkat melaut. Luar biasa.
Saya pun berenana akan kembali menjelajahi Lampung suatu saat nanti. Tujuan saya berikutnya adalah Pulau Sebuku dan Sebesi serta Gunung Anak Krakatau, dan yang paling menawan adalah Teluk Kiluan. Bismillah.

Seperti yang sudah saya bilang sebelumnya, Lampung ini potensi pariwisata alamnya sangat bagus. Banyak sekali pantai, gunung air terjun, dsb terdapat di provinsi paling timur Pulau Sumatera ini. Seperti pantai di Teluk Kiluan, Pulau Sebuku dan Sebesi, Gunung Anak Krakatau. Namun, aksesibilitas menjadi kendala utama menuju lokasi-lokasi menakjubkan ini. Sulitnya akses menuju lokasi wisata menghambat pertumbuhan kunjungan wisatawan. Diharapkan pemerintah Lampung menyadari besarnya potensi wisata ini dan membangun fasilitas wisata dan juga sarana transportasi dan jalan yang memadai. Semoga.

The Real Life Has Just Begun.

Thursday, December 12, 2013: It was a turning point in my life.
After passing a tiring-three-months selection process of MT, they (MAP interviewers) finally hired me as one of the selected management trainees at this #1 lifestyle retail company.

I will never forget the first time I was interviewed at this company. It was on September 30, 2013, or a month after graduating from university. Before, I passed through the phsycological test. A week after that interview, its HR called me by phone and told me that I passed to the second interview, on October 10. I was so happy at that time. After the 2nd interview, I was confident that I would pass this interview. The interviewer told me that within two weeks the result would be announced. But, after the two weeks, or even a month of waiting, they never called me.
I sent an email to the HR, asked them about the progress of my application. But, the answer didn’t satisfy me.
I was about to forget it until I got an email, in the late afternoon on November 21, from MAP which informed me that I passed to the final stage, Panel Interview with the expats directors on December 12. It also informed that the process would be held a whole day from 8:00 AM.

Soon the day was coming. At 7:30 I’ve already been at Wisma BNI 46 Sudirman, South Jakarta. It was the fourth time I came to that place for an interview. That day, I extremely hoped for the best result. There were 40 other candidates. While waiting for my turn, to be interviewed by 5 panel judges (both Indonesian and expats), was the most thrilling moment ever. My heart beat thousand times harder. At 12 was my turn.

By entering the panel room, I felt my heart stopped beating **exaggerated** when I saw the panelists. Thank God, the 30-minutes-feels-like-thousand-years interview was successfully done. They told me that I passed (again) and had to do the very last stage of selection process, Focus Group Discussion (FGD), on the same day. It was the hardest moment I’ve ever felt. After the FGD, we had to present what we had discussed, based on the case study that’s given, in front of the panelists (again T.T). At that time, after presenting what I got from the case, the panelists asked me some questions. I tried very hard to hide the nerves and answered the questions. Done. Again we, the rest 25 candidates, had to wait the panelists to announce the selected candidates. I felt terrible at that moment because I thought I didn’t do my very best. But, once again thank to God, mom and dad, sisters, girlfriend, bestfriends, who always support me, finally the panelists said my name to be one of the selected ones. Praise to Allah SWT.

Yet, this is not the end, this is just the beginning. The thing I know is, preparation and hard work are the best ways to success.

-Urfi Setiawan