It's all about me, my life, my adventure, my thoughts, everything, and however these are all written subjectively
Minggu, 18 Januari 2015
Bekasi Punya Pantai
Minggu, 11 Januari 2015
Royat
"Kenapa kok tiba-tiba ngajak pulang ke desa malam-malam begini?"
"Di desa sedang ada sedekah dan kita semua harus pulang."
Buya Hamka
I got a job from my sister, disuruh bantu dia penelitian tentang Buya Hamka. Dan dia menjanjikan, ya menjanjikan, akan kasih honor. Terus saya bilang "50 ya?" *evil smirk* and then she was imaginably shocked "50 apa? 50% dari honor aku? Yakali, dek."
Setelah negosiasi sebentar, akhirnya dia setuju 50% dari honor bakal filmnya ini akan jadi honor saya. Saya langsung semangat baca buku Ayah yang dikarang oleh Irfan Hamka (anak dari Buya Hamka) yang bercerita tentang kisah Buya. Baru baca halaman awal bagian Pengantar Penerbit, saya buka suara "70 aja gimana?" Kata saya bercanda. "Udah gila, lo. Mana ada cuma bantuin dikit dapet 70% honor (aku)."
Sebenarnya, sih, tanpa dikasih bayaran juga saya ikhlas bantu dia (paling ntar kalo honor dia keluar, usually I insist her to treat me dinner at a fancy resto). Apalagi baca buku termasuk bagian dari resolusi saya tahun 2015 ini. Lumayan juga menambah resensi dan genre buku yang dibaca setelah kemarin membaca buku fiksi, kali ini baca buku biografi dan sejarah.
Penelitian kakak saya tentang Buya ini sebenarnya dilakukan untuk project filmnya dia. Dia jadi asisten penulis skenario salah satu script writer terkenal yang sudah menelurkan banyak skenario film.
Sabtu, 10 Januari 2015
Outing Cimory - Gunung Mas
"Mita: A'a! Taun baru kemana? #kepo
Me: pulau teh. Pulau Gebang *ngemil sampah* Hahaha :D Mit, taun depan nobar yok
Mita: ayok bgt nobar a! Teteh kangen aa bgt, aa sombong gak ada kabar, teteh jg kangen sm teh yuni (Puri). Ayok jadwalin
Me: Aa skrg mmg nonaktif medsos, aktif cm twitter aja *boong eh ke Cimory Riverside aja yok bsk bolang *serius
Mita: plis jgn bsk plis mingdep aja plis plis plis ajak teh Inda jg plis plis plis"
Kira-kira itu lah sepenggal percakapan di twitter pada tanggal 31 Desember 2014. Bisa dibilang secara dadakan akhirya kami berempat pergi ke Cimory Riverside di kawasan Cisarua, Puncak, Bogor. Setelah dibuatkan grup Line yang terdiri dari saya, Inda, Mita, dan Puri, akhirnya diputuskan kami akan ke Cimory Riverside pada hari sabtu, 10 Jan 2015.
Pukul 7 pagi, kami berjanji berkumpul di depan Mabes TNI Angkatan Darat yang berada persis di pintu keluar Terminal Kp. Rambutan. Dari sini kami akan naik bus Marita (AC) atau Do'a Ibu (Non-AC) jurusan Tasikmalaya.
Kamis, 08 Januari 2015
50 Shades of Reading
Holy Crap!
One of my this-year's resolutions is that I have to read more books than I had last year. I'm satisfied that on the first 10 days on January 2015, I have already read two books: Ayahku (Bukan) Pembohong by Tere Liye and Untitled written by a friend of mine, Puri Diah (actually this novel has not yet published and is still under revised. Hopefully it will be published soon since Gramedia forces her to finish it real soon). I'm lucky that I have already read it before it's officially published, merci beacoup, Puy, de me laiser à le lire ☺
And I think I'm now obsessed with book. Since I don't have any books to read in my apartment (I insist not to re-read book that I've had read it for once), so I 'made an effort' to google free-yet-illegal novels to feed my brain and my heart as well, and Holy Crap (Anastasia says this phrase like a zillion times in the book) I'm suddenly bumped into 50 Shades of Grey by E.L James. I knew about this novel last year when it was published to be made into a real motion picture. Back then, I didn't have any intentions to read the book since it's easier to see the movie, though (And now I figure out how would it be when it's released next month *grin*). But, reading its original in words is more pleasant.
this James' work describes explicitly about, hmmm,,,, I think I don't need to mention it. So, mind yourself before you 'touch' this book.
Selasa, 06 Januari 2015
Air Mata Pertama
Air mata pertama di tahun 2015.
Bukan karena masalah hidup, tapi akibat membaca buku. Somehow I am so sentimental whenever I read a book that touches my heart so deep to the core.
Entah kenapa saya sering stress sendiri karena ga bisa nangis atas semua masalah yang menimpa diri saya. Tapi giliran nonton tv atau novel tentang kehidupan yang sedih-sedih gitu, langsung bisa nangis. Buku Tere-Liye selalu sukses bikin saya nangis. Dulu, buku Daun Yang Jatuh Tak Pernah Membenci Angin sukses membuat saya menangis di bab pertama saya membacanya. Saya menangis di dalam bis dalam perjalanan dari Serang ke Depok.
Namun, buku Ayahku (Bukan) Pembohong ini baru membuat saya menangis tepat di akhir bab 25 dan masuk ke bab 26. Tapi sejak itu novel ini sukses membuat dada saya sesak dan nafas tersengal menahan air mata hingga akhir cerita.
(Saya langsung teringat ibu dan ayah, dan langsung terpikir untuk menulis cerita tentang mereka. Ya, agar suatu saat anak cucu saya dapat mengetahui asal usul ayah atau kakeknya dari mana.
Ya, untuk dokumentasi. Tidak seperti presiden, artis atau pesohor yang kehidupannya kebanyakan terdokumentasi dengan baik, kita sebagai orang biasa harus membuat dokumentasi sendiri).
"Nah, Dam, selamat melanjutkan hidup. Apa kata pepatah, hidup harus terus berlanjut, tidak peduli seberapa menyakitkan atau seberapa membahagiakan, biar waktu yang menjadi obat. Kau akan menemukan petualangan hebat berikutnya di luar sana." Kepala Sekolah. Hal 242
Seperti yang dituliskan oleh Sang Penulis bahwa novel ini bercerita tentang pencarian arti kebahagiaan yang sebenarnya. Bahwa kebahagiaan bukan hanya berupa hal-hal materil yang datang dari luar diri kita, yang kesemuanya itu hanya bersifat sementara, melainkan kebahagiaan itu datang dari dalam diri kita sendiri. Kebahagiaan timbul dari kesederhanaan.
Kamis, 01 Januari 2015
Happy New Year 2015
Bonne Année 2015 tout le monde!
Tahun 2014 ini hidup saya pergerakannya sangat fluktuatif sudah seperti roller coaster.
Awal tahun dibuka dengan sebuah langkah yang cukup besar, tapi ditutup dengan berbagai kegagalan.
Kegagalan-kegagalan ini sempat membuat saya, sebagai manusia biasa yang lemah tak berdaya di hadapan-Nya, mengalami stress berkepanjangan.
Untuk itu lah saya memutuskan pergi menyepi di sebuah pulau kecil di Selat Sunda untuk berkontemplasi akan hidup saya ke depannya.